Langsung ke konten utama

Bandung Berbisik: Kisah Gedung Merdeka, Panggung Solidaritas Asia Afrika

 

Gambar diambil oleh Penulis

Bandung, 30 Maret 2024 - Berkelana di Bandung, serasa menelusuri lorong waktu. Di balik keramaian cafe kekinian dan deretan factory outlet, terselip jejak sejarah yang kokoh dan memesona. Gedung Merdeka, yang berdiri anggun di Jalan Asia Afrika, tak sekedar bangunan tua biasa. Ia adalah saksi bisu momen krusial yang mengubah peta politik dunia: Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955.

Memandang dari kejauhan, Gedung Merdeka memancarkan aura megah dengan gaya arsitektur neo-klasik. Dibangun pada tahun 1895, fasadnya berhiaskan pilar-pilar kokoh dan ornamen rumit, warisan era kolonial Belanda. Namun, melangkah melewati pintu utama, denyut sejarah berdetak lebih kencang. Suasana hening dan aroma kertas tua seolah berbisik, menceritakan kisah para pemimpin dari 29 negara Asia dan Afrika yang pernah berhimpun di sini.

Panggung Perdamaian: Lahirnya Dasasila Bandung

Jauh dari hiruk pikuk politik blok Barat dan Timur yang mendominasi kala itu, KAA menjadi oase persatuan. Di ruang sidang utama, bayangkan para tokoh legendaris seperti Soekarno, Gamal Abdul Nasser, dan Jawaharlal Nehru berdiskusi dengan semangat. Meja bundar tempat mereka berunding kini menjadi artefak berharga, menyimbolkan kesetaraan dan dialog antar bangsa. Di atas meja ini pula, lahirlah Dasasila Bandung, prinsip-prinsip mulia yang menjadi landasan bagi Gerakan Non-Blok.

Lebih dari Sekadar Koleksi: Museum KAA Bercerita

Gedung Merdeka tidak hanya bangunan, tapi juga museum yang menyimpan jejak KAA. Beragam koleksi foto, dokumen, dan benda bersejarah terpajang rapi. Ada pulpen yang digunakan untuk menandatangani Dasasila Bandung, bendera negara-negara peserta yang berbaris anggun, serta replika pakaian yang dikenakan para pemimpin. Setiap koleksi berbisik tentang semangat persaudaraan dan solidaritas yang dikobarkan kala itu.

Suara Masa Lalu di Lorong Bersejarah

Berjalan menyusuri lorong-lorong gedung, kita seakan diajak berkelana ke masa lalu. Ruangan demi ruangan dihiasi foto-foto dokumentasi KAA, cuplikan pidato para pemimpin, dan peta yang menunjukkan asal negara peserta. Di ruang lain, terdapat pameran tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya peran Bandung sebagai pusat pergerakan nasional. Menariknya, ada pula ruang khusus yang menceritakan kisah Societeit Concordia, nama awal gedung sebelum diubah oleh Presiden Soekarno menjadi "Merdeka" menjelang KAA.

Warisan Tak Ternilai: Menginspirasi Generasi Masa Kini

Gedung Merdeka tak hanya destinasi wisata. Ia adalah pusat pembelajaran bagi generasi muda. Melalui program edukasi interaktif, para pelajar bisa belajar tentang nilai-nilai Dasasila Bandung, yaitu hormat-menghormati hak-hak dasar manusia, penghormatan kedaulatan dan integritas territorial, pengakuan persamaan semua bangsa dan ras, kerjasama yang saling menguntungkan, hidup damai berdampingan, tidak ikut campur urusan dalam negeri negara lain, penghormatan hak asasi manusia dan keadilan fundamental, serta kerjasama untuk memajukan kepentingan bersama.

Lebih dari Sekadar Wisata Sejarah: Merenungkan Harapan Masa Depan

Berkunjung ke Gedung Merdeka bukan sekadar berfoto di depan bangunan tua. Di sini, kita diajak untuk merenungkan sejarah, belajar dari keteguhan para pemimpin terdahulu, dan menggali kembali relevansi Dasasila Bandung di era modern. Dengan dunia yang semakin kompleks, prinsip-prinsip perdamaian, kerjasama, dan non-blok yang diperjuangkan kala itu terasa kian penting. Gedung Merdeka menjadi simbol harapan, bahwa dialog dan solidaritas antar bangsa masih bisa dirajut untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Suara Bandung untuk Dunia: Perdamaian dan Harapan

Di tengah hingar-bingar kota, Gedung Merdeka berdiri teguh sebagai pengingat. Ia berbisik pada setiap pengunjung tentang perjuangan para pendahulu, tentang pentingnya persatuan dan kemerdekaan. Gedung Merdeka tak hanya milik Indonesia, tapi milik dunia. Ia adalah panggung sejarah yang terus bergema, membawa pesan perdamaian dan harapan untuk generasi mendatang. Jadi, sudahkah Anda merencanakan perjalanan ke Bandung untuk menyaksikan warisan berharga ini?

By : FNI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MUMUSO Braga Bandung: Destinasi Belanja Terbaru dengan Konsep Unik dan Produk Berkualitas

  Kondisi MUMUSO Braga (Sumber Pribadi) Bandung, 14 Juni 2024 – Kota Bandung kembali menambah daya tariknya dengan hadirnya MUMUSO, gerai retail internasional yang dikenal dengan konsep unik dan produk berkualitas. Bertempat di Braga City Walk, MUMUSO menawarkan pengalaman belanja yang menyenangkan dengan beragam produk mulai dari peralatan rumah tangga, kecantikan, hingga aksesoris yang modern, dan stylish MUMUSO, yang berasal dari Korea Selatan, telah membuka gerai barunya di jantung Kota Bandung, tepatnya di Braga City Walk. Dengan desain toko yang menarik dan suasana yang nyaman, MUMUSO Braga Bandung diharapkan menjadi destinasi belanja favorit bagi masyarakat Bandung dan wisatawan yang berkunjung. Gerai ini menawarkan berbagai macam produk berkualitas dengan harga yang terjangkau. Produk-produk yang dijual di MUMUSO mencakup peralatan rumah tangga, produk kecantikan, alat tulis, mainan, aksesoris, dan barang-barang elektronik kecil. Salah satu daya tarik utama dari MUMUSO a...

Serunya Berburu Tiramisusu Viral di Jalan Braga, Bandung Jawa Barat

  Bandung, 30 Maret 2024 – Tiada lain tiada bukan, siapa yang tidak mengenal oleh-oleh terkenal dari kota Kembang ini? Yap, Tiramisusu yang berada di salah satu jalan Braga, Bandung. Belakangan ini, keberadaan kuliner kekinian berbahan dasar coklat, tiramisu, dan susu tersebut tengah menjadi buah bibir di kalangan pecinta kuliner manis, Antrian panjang tak terelakkan setiap harinya, menjadi bukti akan popularitas Tiramisusu Braga yang kian melejit. Rahasia di balik keviralannya terletak pada perpaduan rasa yang unik dan tampilannya yang menarik. Perpaduan rasa coklat, tiramisu, dan susu menghasilkan sebuah sensasi rasa manis dan gurih yang memanjakan lidah. Ditambah dengan topping kekinian seperti oreo dan remahan coklat, Tiramisusu Braga menjadi hidangan penutup yang sempurna. Perbesar Foto:Snow Mountain (dok. Fanessa) Kepopuleran Tiramisusu Braga tak hanya menjadikannya sebagai jajanan kekinian favorit, tetapi juga destinasi kuliner baru di Kota Bandung. Kedai ini terletak di Jal...

Menelusuri Jejak Sejarah di Titik Nol Kilometer Stasiun Bandung: Warisan Kolonial yang Masih Berdiri Kokoh

  Bandung, 2 Mei 2024 – Di tengah hiruk pikuk Kota Kembang, berdiri megah Stasiun Bandung, saksi bisu perjalanan sejarah panjang kota ini. Di balik arsitekturnya yang menawan, terdapat kisah menarik tentang titik nol kilometer yang menjadi simbol awal penjelajahan di Jawa Barat. Dibangun pada tahun 1883, Stasiun Bandung awalnya dikenal sebagai Stasiun Andir. Dibangun atas prakarsa Andries Adrien De Clerq, seorang pengusaha Belanda, stasiun ini menjadi gerbang utama menuju Priangan Timur dan Jawa Barat. Seiring perkembangan zaman, nama stasiun ini diubah menjadi Stasiun Bandung pada tahun 1910. Di depan Stasiun Bandung, terdapat sebuah monumen kecil dengan tulisan "0 KM". Monumen ini menandakan titik nol kilometer jalur kereta api di Jawa Barat. Dari titik ini, terbentang rel kereta api yang menghubungkan berbagai kota di Jawa Barat, membuka akses perdagangan dan mempermudah mobilitas penduduk. Stasiun Bandung bukan hanya stasiun biasa. Di sini, terjalin kisah-kisah sejarah, ...